TOCO Guesthouse – Home Away from Home

“おはよう!”

Sapaan yang tiap pagi menyambut kami saat turun dari kamar kami di lantai atas. おはよう (Ohayou) artinya “selamat pagi” dalam bahasa Jepang. TOCO Guesthouse, hostel kecil yang hangat, jadi ‘rumah’ selama 4 hari kami di Tokyo.

Kembali ke beberapa bulan sebelum keberangkatan. Kami mulai booking hostel untuk di Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Beberapa hostel di Tokyo yang sudah jadi incaran ternyata full booked. Kami pun harus cari alternatif lain.

Sebetulnya ada keinginan untuk menginap di ryokan – penginapan tradisional -, sayangnya harganya tidak sesuai budget kami.

Saat masih mencari hostel, ternyata kami menemukan sebuah hostel yang bentuk bangunannya seperti rumah tradisional. TOCO Guesthouse namanya. Letaknya di wilayah Ueno, sebelah Barat kota Tokyo.

Tanpa ragu lagi, kami langsung mengirim email langsung ke TOCO. Responnya cepat. Sayangnya, disana tidak bisa menginap kalau dalam 1 grup ada lebih dari 4 orang. Tapi akhirnya kami jadi juga menginap disana.

Kami sampai di TOCO hampir tengah malam, untungnya hostel ini mudah sekali ditemukan. Hanya beberapa meter dari stasiun Iriya. Tinggal cari sebuah bar kecil yang menyempil di antara rumah-rumah.

Sebetulnya kami sempat khawatir kalau saat malam hostel ini akan berisik, karena ada bar di depannya. Tapi ternyata bangunan bar terpisah dengan bangunan hostel.  Jadi kami pun tidur pulas tiap malam.

Masuk ke dalam bar, kami bilang kalau kami sudah reservasi. Selanjutnya Satomi-san membantu kami untuk proses registrasi dan check-in. Setelah itu kami diantar ke lantai atas. Untuk 4 hari ke depan, kami akan tinggal di kamar mix dorm berisi 3 bunk bed.

Tidak banyak yang bisa dilakukan saat malam di TOCO. Hostel ini peraturannya cukup ketat. Di atas jam 11 malam, lampu di rumah akan dimatikan semua, kamar mandi pun tidak boleh dipakai (kalau toilet sih boleh).

Alasannya, rumah yang dijadikan hostel ini adalah rumah tua dengan material kayu. Jadi saat kita berjalan di dalam rumah, bunyi lantai kayu berderit. Jadi harus pelan-pelan apalagi kalau malam. Jangan sampai yang lain terganggu.

Pagi harinya, kami baru bisa melihat jelas hostel ini. Sama persis dengan bayangan saya akan rumah tradisional Jepang. Lantai dan dinding kayu, dengan pintu geser yang langsung menuju taman samping. Seperti yang begini sudah jarang ada di kota besar seperti Tokyo.

Dari cerita staff TOCO, batu menggunung yang ada di taman samping asalnya dari letusan gunung Fuji di masa lalu. Sampai sekarang gundukan batu tersebut dibiarkan saja, karena gunung Fuji dianggap sakral oleh masyarakat Jepang.

Saat kami turun ke dapur, Megu-san sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk penghuni hostel. “おはよう!”sapa Megu-san dengan ceria.

Traveler dari berbagai negara, berkumpul pagi itu mengelilingi meja kayu di dapur kecil TOCO. Ah sayang kami tidak bisa duduk lama-lama, kami sudah ditunggu teman kami hari itu.

Pernah di suatu pagi, kami melihat 2 pria Jepang yang sedang sibuk di dapur. Mereka berdua dari Chiba, masih temannya para staff TOCO. Meja makan sudah penuh dengan berbagai bahan makanan. Rupanya nanti siang akan ada acara makan Nagashi Somen alias flowing noodles!

Itu loh, somen (salah satu jenis mie) yang ditaruh di air dan dialirkan di bambu yang panjang. Aaahhh saya kan selalu mau mencoba makan nagashi somen ini. Tapi apa boleh buat, kami sudah ada jadwal lain hari itu T_T

Ada 1 orang staff disini yang warga negara Amerika, Kayla namanya. Dia sudah 7 tahun di Jepang, dan tidak ada rencana untuk kembali ke Amerika. She fell in love with Japan.

Ohya, dia salah satu staff yang ‘beruntung’ yang mencoba mie cup dari Indonesia yang kaya MSG hahaha. Katanya enak banget, dan dia kaget saat tahu harganya murah sekali.

Cuma perlu 1 malam untuk membuat TOCO terasa seperti rumah. Staff yang sangat ramah – they treated us like friends, not customers – dan bangunan hostel yang sangat nyaman. 2 alasan yang membuat kami betul-betul jatuh hati.

Tiap pagi rasanya ada saja cerita dan kenalan baru di TOCO. Dari mulai staff yang silih berganti, sesama traveler – kami seakan terjangkit virus positif keramahan staff disini –, atau teman-teman staff TOCO yang sama ramahnya.

Siapa sangka, kami menemukan tempat yang terasa seperti rumah jauh dari rumah…

Notes:

  • Facebook TOCO Guesthouse (spot us on their gallery J)
  • Website TOCO Guesthouse

toco-4

toco-11

toco-10toco-9

toco-8

toco-3

toco-2

toco-7

toco

Iklan

Diterbitkan oleh

Adissa Mahani

A traveler who also happen to be a designer, writer, and animal lover.

3 tanggapan untuk “TOCO Guesthouse – Home Away from Home”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s