Berburu Sunrise di Punthuk Setumbu

Demam AADC tiba-tiba melanda lagi… Ya, memang sudah beberapa minggu ini sekuel film Ada Apa Dengan Cinta diputar di bioskop tanah air. Kisah Cinta-Rangga dan geng Cinta ternyata masih bikin orang-orang (termasuk saya) penasaran (or probably people watched the sequel for the sake of nostalgia).

Posting kali ini bukan mau mengupas tentang AADC, tapi saya mau cerita soal Punthuk Setumbu. Loh, apa hubungannya? Buat yang sudah nonton AADC2, pasti masih ingat dong, ketika Cinta diajak Rangga ke sebuah tempat gelap di pagi buta (seriously tho, kok Cinta mau2nya sih .__.), yang ternyata saat matahari mulai naik, pemandangannya super indah.

Yep, tempat itu adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit di Kecamatan Borobudur, Magelang.

Pagi buta, tepatnya jam 3 pagi, kami siap berangkat menuju Punthuk Setumbu untuk berburu matahari terbit. Andong yang telah kami sewa di hari sebelumnya juga sudah siap menunggu kami di depan hostel. Menurut bapak pengemudi andong (duh saya lupa namanya, padahal orangnya baik sekali), untuk menuju Puthuk Setumbu bisa dengan motor atau mobil, tapi akan susah kalau kita tidak tahu jalan sama sekali. Jadi kalaupun menggunakan kendaraan sendiri, bisa menggunakan jasa ojek yang akan menunjukkan jalan. Di perjalanan kami ini, andong kami juga dipandu motor yang dikendarai anak si bapak.

Gak salah kalau si bapak bilang akan susah kalau tidak dipandu, sepanjang jalan tidak kelihatan apa-apa. Hanya ada lampu dari kendaraan yang juga menuju ke Punthuk Setumbu. Perjalanan cukup singkat, gak sampai setengah jam kami sudah sampai di tempat parkir andong di kawasan Punthuk Setumbu. Untuk sampai ke atas, tetap harus jalan kaki dong.

Kami mulai berjalan melewati jalan aspal yang menanjak untuk sampai di pintu masuk Punthuk Setumbu. Sampai disana, harus beli tiket masuk dulu. Setelah itu kami berjalan lagi menuju spot untuk melihat sunrise. Jalannya sudah berupa tangga, tapi tetap harus hati-hati karena gelap. Sampai di atas, ngos-ngosan dan keringat bercucuran. Entah saya yang jarang olahraga apa gimana ya.. hehe.

Waktu menunjukkan jam 5 kurang, langitmasih gelap dan belum terlihat tanda-tanda matahari terbit, tapi Punthuk Setumbu sudah ramai oleh pengunjung. Ohya, sejauh yang saya lihat, hampir sebagian pengunjung yang datang itu turis mancanegara.

puthuk1

Gak lama kemudian, langit mulai berubah warna. Kami mulai bisa melihat dengan jelas pemandangan di depan kami. It was breathtaking. Kabut menggantung di permukaan tanah di bawah kami. Candi Borobodur terlihat megah bahkan dari kejauhan. Siluet gunung Merapi dan Merbabu menjadi background pemandangan yang surreal ini.

puthuk2

Langit sudah cukup terang, tapi matahari belum kelihatan juga. Ah ternyata matahari sudah tinggi, tapi terhalang awan. Memang saat itu kami datang di bulan dengan cuaca berawan. Meskipun gagal melihat detik-detik matahari terbit, pemandangan di Punthuk Setumbu tetap jadi salah satu momen yang gak pernah saya lupakan dari perjalanan kami. Mungkin itu artinya saya harus balik lagi 🙂

puthuk3

Iklan

Penulis: Adissa Mahani

A traveler who also happen to be a designer, writer, and animal lover.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s